Powered By Blogger

Sabtu, 07 Maret 2015

DERMAWAN DI TELAGA RASULULLAH

Aisyah r.a. menuturkan bahwa seorang wanita menghadap Nabi Saw., sedang tangan kanannya tiada berfungsi (lumpuh). Ia berkata “Wahai Nabi junjunganku, doakanlah agar tanganku yang tiada berfungsi ini sembuh kembali.” Nabi lalu menjawab, “Kenapa tanganmu sampai begini?” Wanita itu bercerita, “Pada malam hari aku bermimpi seolah-olah kiamat telah datang, neraka Jahim berkobar dengan apinya dan surga telah tersedia. Namun dalam neraka kulihat ibuku tengah berusaha menghindari jilatan api dengan sepotong lemak hewan dan saputangan yang dikipas-kipaskan oleh kedua tangannya. Lalu aku bertanya pada ibuku, ‘Wahai ibu, kenapa berada di sini? Padahal sepengetahuanku ibu adalah orang yang taat beribadah kepada Allah dan berbakti pada suami hingga ayah pun ridha kepadamu.’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku, aku memang seorang yang taat kepada Allah dan suami, tapi sifat kikir memaksaku ke tempat ini.’ Aku kembali bertanya, ‘Bagaimana dengan lemak dan saputangan yang kau pegang?’ Ibu menjawab, ‘Itulah harta yang pernah kusedekahkan sepanjang hidupku. Hanya berupa sepotong lemak dan sehelai saputangan. Tak lebih dari itu.’ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana dengan ayah? Di mana dia sekarang?’ Ia menjawab, ‘Beliau seorang pemurah, dermawan, suka membantu orang yang lemah,tentu tempatnya di surga.’
Maka aku pun segera menuju ke surga mencari ayahku. Ternyata ayah memang berada di sana. Ia sedang berdiri di tepian telaga Rasulullah dan memberi minuman bagi banyak orang. Aku mendekati dan menuntutnya, ‘Wahai ayahku, kini ibuku yang merupakan istrimu, yang selalu taat kepada Allah dan berbakti kepadamu sedang terbelenggu oleh siksa api neraka. Sementara ayah memberi minum banyak orang dari telaga Rasulullah. Maka berikanlah ibu minuman dari telaga ini. Ayah menjawab, ‘Wahai putriku, Allah melarang mereka yang kikir dan berdosa minum dari telaga Nabi Saw.’ Karena ayah bersikeras tidak mau memberi maka aku pun memaksa mengambil segelas air dari telaga itu dan memberikannya pada ibu yang sedang kehausan. Namun tiba-tiba suara kutukan tertuju kepadaku, ‘Mudah-mudahan tanganmu layu, tak berfungsi akibat perbuatanmu itu!’ Saat terjaga dari tidurku, tiba-tiba tanganku telah lumpuh, tak berfungsi seperti yang kau lihat ini.”
Kemudian Aisyah menuturkan bahwa Nabi Saw. setelah mendengar cerita wanita tersebut, beliau meletakkan tongkat pada tangan yang lumpuh itu dan berdoa, “Ya Tuhan, dengan hak mimpi yang dikisahkan oleh wanita ini, sembuhkanlah tangan yang lumpuh ini!” Maka dengan doa Rasulullah Saw., tangan yang lumpuh tiada berfungsi itu akhirnya pulih total, sembuh seperti sediakala.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sifat pemurah itu tidak ada bedanya seperti pohon surga, dahan-dahannya menjulur ke dunia, siapa mengambil setangkai dari dahan-dahan tersebut maka ia dituntun ke surga. Sebaliknya, sifat kikir itu seperti pohon di neraka, dahan-dahannya menjulur ke dunia, siapa mengambil setangkai dahan dari pohon itu maka ia terseret ke dalam api neraka.”
Rasulullah Saw. pun bersabda, “Orang pemurah itu dekat dengan hak dan juga dekat dengan masyarakat, tetapi orang kikir menjauhi yang hak dan masyarakat.” Dalam hadis yang lain pun disebutkan, “Orang kikir sulit masuk surga sekalipun ia sedang zahid.”
----Kitab Durratun-Nashihin


source : Tasawuf Underground

ART

istilah ART  dalam bahasa inggris umumnya hanya dihubungkan dengan bagian seni yang biasa ditandai dengan "PLASTIK" atau "VISUAL"(seni rupa) tetapi semestinya didalamnya juga termasuk seni sastra dan seni musik. sesungguhnyalah ada sifat-sifat umum yang dapat diperuntukan bagi semua cabang seni.(Herbert Read)

Seorang pelukis biasanya berekspresi penggambaran keadaan dunia, hanya seorang komponislah yang bebas menciptakan hasil seni sesuai dengan kesadarannya sendiri dan dengan tiada tujuan lain kecuali untuk menyenangkan, tetapi semua senimab itu punya tujuan yang sama ialah untuk menyenangkan dan secara sederhana seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan, bentuk yang sedemikian itu untuk memuaskan kesadaran keindahan kita dan rasa indah itu terpenuhi bila kita menemukan kesatuan atau harmoni dari bentuk-bentuk yang kita amati itu. (Schopenhouer).

Sehingga kita akan sulit menerangkan keindahan itu pada orang lain karena masing-masing kita punya pengalaman dan koper pengetahuan yang berbeda-beda jadilah ini sesuatu yang relatif dan sangat subjektif, namun dalam hal lain juga kita kadang sepakat untuk sesuatu yang bersifat indah. yang didalamnya terdapat unsur-unsur atau elemen-elemen keindahan.

Cabang-cabang seni
- Seni Murni (pure art)
- Seni Terapan (applie art)
- Kriya (craft)
- Seni Pertunjukan (perfomance art)
  • SENI MURNI
          - Seni Lukis          - Seni Patung
          - Seni Grafis
          - ...
  • SENI TERAPAN/DESAIN
          - Desain Interior
          - Desain Produk
          - Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual
          - Desain Textile
          - ...
  • KRIYA/CRAFT
          - Kramik
          - Kulit
          - Logam
          - Dll

PRINSIP-PRINSIP DASAR SENI
TERDIRI DARI :

- Garis, Ritme, Tone, Warna, Form, Harmony, Balance, Unity, Repetisi, dll

Dalam sebuah karya penciptaan ada 2 (dua) pendekatan yakni :

- VISIOPLASTIS
   Penciptaan berdasarkan apa yang dilihat oleh mata secara visual, artinya pemindahan objek gambar dari  
   nyata atau bentuk 3 dimensi kedalam kertas gambar 2 dimensi

- IDEOPLASTIS
  Sedangkan ideoplastis, pemindahan bentuk visual kedalam gambar berdasarkan pengalaman/rekaman
   ingatan seseorang tentang sesuatu bentuk yang dia ingat, biasa saja bentuknya sangat berbeda dengan  
   bentuk benda kenyataannya.


Agus Tiono, M.Hum.
Pengabdian Masyarakat Fakultas Seni Rupa dan Desain,Universitas Tarumanagara di Kab. Karawang . April 2011.

Jumat, 06 Maret 2015

BIBLIOGRAFI

PENGERTIAN BIBLIOGRAFI DAN JENISNYA SERTA MANFAATNYA
Bibliografi
Kata bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion: yang berarti buku dan Graphein: yang berarti menulis, maka kata Bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku.Dalam hal ini maka bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliografi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

Unsur-Unsur Bibliografi dan Contoh Penulisannya
a. Nama Pengarang, yang dikutip secara lengkap
b. Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
c. Data Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke berapa, nomor jilid buku dan tebal (jumlah halaman)  
buku tersebut.
d. Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, atau surat kabar, tanggal dan    tahun.
Penyusunan Bibliografi a. Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad. b. Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan abjad. c. Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan referensi, untuk referensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan. d. Jarak antara baris dengan baris untuk satu referensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi. e. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau empat ketikan.
Jenis-Jenis Bibliografi Jenis bibliografi yang dihasilkan dalam pembuatan publikasi sekunder akan tergantung pada jenis pustaka yang akan didaftar. Misalnya akan dibuat daftar yang berasal dari deskripsi katalog buku yang dimiliki perpustakaan, maka daftar tersebut dapat dinamakan daftar katalog. Sementara jika daftar yang disusun berdasarkan judul artikel suatu majalah, maka daftar tersebut dapat disebut daftar isi. Dari segi cara penyajian dan uraian deskripsinya, bibliografi dibagi menjadi:
  • Bibliografi deskriptif:
Yaitu bibliografi yang dilengkapi deskripsi singkat yang didapat dari gambaran fisik yang tertera atau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresium), kolasi serta kata kunci dan abstrak 
yang tertulis.
  • Bibliografi evaluatif: 
Yaitu bibliografi yang dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan pustaka. Evaluasi ini biasanya mencakup penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel.
 

Cakupan Bibliografi Dari segi cakupannya, bibliografi dapat dibagi menjadi:
  • Bibliografi retrospektif :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka yang telah diterbitkan pada zaman yang lampau. 
Misalnya “Bibliografi sejarah perang Dipenogoro”
  • Bibliografi terkini/current :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan yang sedang atau masih terbit saat ini. Contohnya Ulrich’s International Periodicals Directory.
  • Bibliografi selektif
yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan tertentu dengan tujuan tertentu.
Misalnya “Buku bacaan terpilih untuk anak usia pra sekolah”.

  • Bibliografi subjek :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka atau artikel pada bidang ilmu dan subjek tertentu. Misalnya “Bibliografi khusus ternak kelinci”.
  • Biliografi nasional :
Yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan suatu negara atau daerah regional tertentu. Contohnya “Bibliografi Nasional Indonesia”.
Penentuan cakupan/topik suatu bibliografi ditentukan berdasarkan berbagai
pertimbangan antara lain :
• Permintaan pengguna
• Topik yang sedang berkembang atau yang banyak diperlukan saat itu
• Dokumentasi koleksi yang dimiliki
• Mandat instansi


Bagian-bagian Bibliografi
Suatu deskripsi bibliografi biasanya terdiri dari :
∼ Judul : berisi judul artikel atau judul buku yang akan dideskripsikan
∼ Kepengarangan : berisi nama pengarang perorangan atau pengarang badan korporasi
∼ Sumber : berisi judul jurnal, judul prosiding, atau judul buku dimana informasi tersebut berada.
∼ Data terbitan (impresium): berisi data tentang kota terbit, nama terbit, dan tahun terbit
∼ Keterangan fisik buku (kolasi), yang berisi halaman lokasi artikel ditemukan.
∼ Keterangan informasi, seperti kata kunci dan abstrak
∼ Keterangan tambahan , seperti lokasi rak penyimpanan, kode call number, perpustakaan pemilik bahan pustaka, dan sebagainya

Manfaat Bibliografi
Pencatatan informasi mengenai koleksi perpustakaan dalam bentuk bibliografi dilakukan dengan berbagai alasan antara lain:
∼ Jumlah koleksi perpustakaan yang semakin meningkat bentuk dan bidang kajiannya
∼ Kebutuhan informasi para pengguna yang semakin beragam dan meningkat jumlahnya
∼ Upaya untuk meningkatkan kualitas layanan penelusuran informasi yang cepat dan tepat

Oleh karena itu penyusunan suatu daftar bibliografi mempunyai fungsi utama untuk membantu pemakai mencari dan menelusuri informasi tertentu. Fungsi lain dari bibliografi adalah sebagai bagian dari jasa pelayanan perpustakaan kepada pemakai. Dengan menerbitkan suatu bibliografi, pustakawan dapat menawarkan koleksinya kepada pemakai tanpa harus mengeluarkan seluruh koleksi yang dimilikinya, serta dapat menjangkau pengguna yang tinggal jauh dari perpustakaan.
Dengan demikian maka, bibliografi dapat digunakan sebagai:
∼ Bahan rujukan terhadap koleksi perpustakaan
∼ Daftar koleksi yang dimiliki perpustakaan
∼ Daftar informasi bahan pustaka mengenai suatu bidang kajian tertentu, dan sebagainya.
source : guspalenatiolen.blogspot.com

Senin, 09 Februari 2015

MEMBUAT TAS UNIK BERBAHAN GONI



berkreasi itu tidaklah sulit, asalkan ada kemauan untuk membuat dan berbuat sesuatu, tentu akan tercipta sebuah hasil kreatifitas, pada halaman ini saya ingin berbagi ilmu tentang membuat tas ethnik yang unik berbahan dasar goni.......prung ah :)

Bahan :
           - Tali Goni (bisa diambil dari karung goni)
           - Tambang goni (biasanya digunakan sebagai bahan penyumpal pada perahu) bisa di dapat di toko, dan harganya sangat murah.

Alat   :
          - Gunting.
          - List Kayu yang sudah di beri paku.

langkah pertama, buatlah list kayu yang sudah diberi paku sebagai alat untuk memudahkan anda dalam menganyam tali goni

buatlah bentangan-bentangan tali goni seperti yang terlihat pada gambar diatas


kemudian buat kembali bentangan-bentangan tali goni hingga membentuk bentangan vertikal dan horisontal

langkah selanjutnya,buatlah ikatan pada tiap pola sudut tali goni yang sudah ada dengan terus menyambung ikatan demi ikatan.

buatlah ikatan yang sama pada sudut yang lainnya sehingga tiap pola kotak yang ada terdapat bentuk X.

potonglah setiap pinggir dari anyaman tali goni yang sudah terbentuk.

dan anda akan mendapatkan pola anyaman tali goni seperti gambar diatas.

lipatlah pola tersebut sehingga membentuk dua bagian yang sama.

tempel dan ikatkan tambang goni pada bagian sisi luar anyaman tali goni yang sudah dilipat tadi.

ikat tambang goni pada bagian ujung tambang goni yang sudah terikat pada bagian anyaman tali goni,tambang goni ini berfungsi sebagai tali pada tas goni yang kita buat.

beri sedikit rumbai pada tiap sudut bawah tas goni sebagai aksesoris,dan tas ethnik yang unik berbahan dasar goni pun sudah jadi :) ,selamat mencoba.










Selasa, 20 Januari 2015

Bukan Tentang Kita Hari Ini.

ketika kita selalu berpikir tentang kita hari ini,tanpa berpikir bagaimana kita nanti, tentu akan sangat memberikan pemikiran yang berbeda. kita hari ini mungkin kita yang lebih nyaman dengan segala sesuatu yang santai,berleha-leha,bersemangat membara atau apapun juga situasinya. namun kita hari ini akan sangat berbeda dengan dengan bagaimana kita nanti, karena dengan bagaimana kita nanti, kita akan mengupayakan diri untuk merencanakan,mengevaluasi dan mengeksekusi apa, siapa, bagaiman, yang masih tak nampak .

kesadaran tentang bagaimana kita nanti mungkin kadang datang sepertinya terlambat, namun tidak. mereka sudah dan sedang selalu menyertai kita dalam setiap keputusan yang kita ambil, hanya saja jika lebih disadari, maka keputusan untuk mengeksekusi sesuatu hal akan lebih cermat, telilti, tak gegabah dan yang pasti lebih berpihak pada kita disuatu saat nanti.

dulu, saya berpikir jikalau saya memiliki handphone, tentulah handphone tersebut akan lebih banyak disimpan dirumah daripada saya bawa, karena waktu itu saya berpikir tentang saya hari ini diwaktu itu, saya yang memang tanpa handphone pun fun menjalani hidup, saya yang kurang begitu peduli dengan relasi dan koneksi, saya yang masih hanya berpikir tentang saya. ternyata semua itu keliru. ketika saya memiliki handphone, maka handphone itu menjadi barang yang paling sering saya bawa, karena saya baru menyadari bahwa dengan selalu membawa handphone, maka saya lebih gampang untuk dihubungi, entah itu berita tentang keluarga,teman bahkan hal-hal yang kadang tidak penting pun menjadi terkoneksi dengan saya. jika saja waktu itu saya sudah berpikir tentang bagaimana saya nanti dan tidak terlena dengan saya hari ini pada waktu itu, tentu akan lebih banyak hal-hal yang berbeda yang terjadi dalam hidup saya.

dulu, saya berpikir tidak penting juga saya harus bisa mengendarai motor. toh dengan jalan kaki dan transportasi yang ada saat itu, saya bisa pergi kemana suka tanpa ribet tapi ternyata setelah saya belajar untuk bisa mengendarai motor, pemikiran saya pun berubah. ternyata walau bagaimanapun bisa naik motor itu lebih menguntungkan saya, lebih irit uang dan waktu. jika saja saya berpikir lebih awal tentang bagaimana kita nanti, tentu akan banyak keuntungan yang bisa saya peroleh.

mari berpikir positif untuk selalu berpikir bagaimana kita nanti bukan tentang kita hari ini, karena mungkin kita hari ini adalah kita yang sedang diberi kelebihan harta, namun harus juga dipikirkan bagaimana kita nanti bila diberi kekurangan harta. kita hari ini mungkin kita yang sedang dalam kondisi sehat, namun harus juga kita ingat bagaimana kita nanti jika dalam kondisi sakit, kita hari ini mungkin kita yang terlalu terlena dalam dan dengan urusan dunia, namun harus juga telah kita pikirkan bagaimana kita nanti di akhirat jika tak pernah membangun dan mempersiapkan amal dan kebajikan

kita hari ini bukan kita suatu saat nanti, jika tanpa persiapan untuk masa dimana kita akan berada bukan pada hari ini.tapi pada bagaimana kita nanti. karena perubahan adalah yang akan kita jelang. yang muda menua, yang kuat melemah dan yang ada akan musnah.



karawang, 20 januari 2015.

Rabu, 26 November 2014

suluk,salik,saloka.

Suluk,Salik,dan Saloka adalah Trinitas.Satu dan lainnya tak saling melemahkan,tak pula saling meninggalkan.Suluk adalah Tarekat,hal-hal tentang adab.Salik adalah Hakekat,yang menyempurnakan akhlak.Saloka adalah Makrifat,budi luhur.Suluk adalah guru,Salik muridnya, dan Saloka adalah ilmu.Guru matahari,murid bumi,dan ilmulah Cahaya yang meneranginya.Jika guru adalah matahari,murid bumi, dan ilmulah cahaya yangmeneranginya,maka jelaslah dari mana asal-muasal cahaya itu.Matahari terdiri atas bola matahari,cahaya matahari,panas matahari,dan sinar matahari.Keempatnya satu dan tak terpisahkan. Ada cahaya,adabayangan. Ada terang,ada gelap.Jika ilmu guru bagi murid ibaratcahaya matahari yang menerangi,jelaslah kedudukan murid.Guru adalah Suluk.Baginya, Saloka adalah bahasa. Dari bahasa lidah hingga bahasa tubuh.Dari komunikasi verbal hingga non-verbal.Guru adalah Suluk.Baginya, Saloka adalah bahasa. Dari bahasa lisan hingga tulisan. Dari perumpamaan [sanepa] hingga yang jelas.Guru adalah Suluk. Baginya, Saloka adalah bahasa.Jelaslah kedudukan guru sebagai yang membacakan, murid yang mendengarkan.Maka, Suluk tiada lain tiada bukan adalah Saloka, bahasa lahir dan batin dari guru, pada muridnya, tentang adab menuju makrifat.Jelaslah bahwa guru hanya mengantar murid hingga Tarekat. Untuk mencapai Ma'rifat,murid harus menjelma jembatan bagi diri sendiri.Jelaslah bahwa guru hanya mengantar murid hingga Tarekat.Untuk mencapai Ma'rifat, murid harus mengalami sendiri fase Hakekat.Adab untuk mencapai Ma'rifat dijalankan oleh murid dengan menyempurnakan akhlak.Menuntun diri sendiri dari gelap menuju cahaya.Perjalanan dari Hakekat menuju Ma'rifat adalah pengalaman sekali seumur hidup.Bagai seutas rambut dibelah tujuh dibelah tujuh lagi.Perjalanan dari Hakekat menuju Ma'rifat adalah pengalaman sekali seumur hidup.Bukan murid yang menentukan mana terhijab mana kasyaf.Ma'rifat adalah pengalaman musyahadah, bukan hasil mujahadah. Semakin menginginkan tajalli, semakin dekat murid pada syirik.Ada cahaya, ada bayangan. Semakin menginginkan tajalli, murid bagai mengejar bayangan sendiri.Semakin lari semakin tak terkejar.Satu-satunya yang harus dilakoni murid terhadap guru, bumi terhadap matahari, adalah berjalan sesuai orbit tawaf. Anti-clockwise.Satu-satunya yang harus dilakoni murid terhadap dirinya sendiri, bumi terhadap dirinya sendiri, adalah berotasi. Clockwise.Titik perjumpaan sekaligus perpisahan antara lingkar Clockwise dan Anti-Clockwise itulah yang disebut titik A'yan Tsabita.Di dalam titik A'yan Tsabita, terkandung Badrul Qudra[titik huruf Ba']. Di dalamnya,tersimpan Lauhil Mahfudz.A'yan Tsabita yang di dalamnya Badul Qudra yang di dalamnya Lauhil Mahfudz itu bersemayam dalam Nur Muhammad.Sampai pada titik ini,berserahlah Sang Hakekat pada daya tarik Sang Ma'rifat.\Nur Muhammad pada Nur Allah.Nur Allah mengandung Ruh Idhafi mengandung Nukat Ghaib mengandung Kun.Perjumpaan sekaligus perpisahan antara Nur Muhammad dan Nur Allah terjadi di titik A'yan Tsabita dan Ruh Idhafi.Itulah titik Jauhar Awal.Titik Jauhar Awal inilah pintu masuk menuju Sejarah Sejati mengenai Hakikat Asal-Muasal Kejadian. Selangkah menuju Alamat Pulang.Demikianlah Suluk, Salik,dan Saloka.Tiada Suluk tanpa Saloka. Tiada Salik tanpa Suluk.Tiada Saloka tanpa Salik.Tidak setiap murid adalah guru, pasti setiap guru adalah murid. Saloka yang mempertemukan dan memisahkan satu dan lainnya.Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin.

source : kultweet SufiKota



Selasa, 18 November 2014

CEPAT BERBURUK SANGKA

Cepat Berburuk Sangka

SAUDARAKU, kita tak jarang mengalami betapa kita terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan ditengah perbedaan pendapat. Ini karena kita amat possesif terhadap pemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri. Bagai seorang perawan yang tak mau secuil pun lelaki pujaannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Kita begitu romatik, karena memang pada dasarnya kita begitu mencintai dan bahagia dengan Islam kita. Begitu rupa romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita jadi cepat tersinggung, cepat mangkel, cepat berang dan naik pitam jika sedikit saja hal tentang ‘pacar’ kita itu disentuh orang. Secara rasional kita menjadi tidak objektif. Dan secara spiritual-psikologis kita menjadi tidak dewasa, tidak rendah hati. Keduanya bergabung dan menghasilkan suatu sikap yang tak menyiapkan untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.

Dalam keadaan begitu kita tanpa sadar, sering melangkahi peringatan Allah, ijtanibuu katsiiron minazh zhonni, inna ba’dhodh zhonni istmun, walaa tajassasuu walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo. Kita sering cepat berburuk sangka, cepat cenderung mencari hanya kesalahan-kesalahan saudara kita ynag lain. Bahkan ada prototype mentalitas kita yang kurang biasa berbeda dalam berhadapan ini, mendorong kita mengungkapkan perbedaan itu dengan cara ‘yaghtab ba’dhukum ba’dhoo’. Dengan begitu akan gampang terjerumus pula kita untuk tergolong dalam kata-kata Allah ‘yashkor qoumun minqoumin’, sedangkan bisa-bisa saja kaum yang dicerca itu yakuunuu khoiron minhum.

Lebih ‘lucu’ lagi, Saudaraku, didalam saling mencerca itu, masing-masing kita merasa benar, dan sungguh-sungguh dengan khusyu’ menyandarkan kebenaran masing-masing itu ke hadirat Allah, sehingga masing-masing meras innalloha ma’anna. Tidakkah, Saudaraku, engkau pernah menangkap dan merasakan getaran keadaan yang seperti itu ditengah perselisihan faham diantara kita semua? Bahkan ada Saudara kita yang dalam keadaan itu lantas saling mengemukakan kata-kata seperti yang diungkapkan Al Qur’an: …i’maluu ‘alaa makaanatikum innii ‘aamil, wantadhiru inni muntazhirun…, atau …lanaa a’malunaa wa lakum a’maalukum, salamun ‘alaikum laa nabtaghil-jaahilin… atau fanistakbaruu fal-ladziina ‘inda robbika yusabbihuuna bil lili wan-nahaari wa hum laa yas-amuun…, bahkan …idz ja’alalladziina kafaruu fii qulubihimul-hamiyyata hamiyyatal-jaahiliyati fa-anzalallahu sakinatahu ‘alaa rosuulihi wa ‘alal mukminina wa alzamahum kalimatat-taqwa.

Tentu saja, Saudaraku, itu benar. Dan mungkin saja memang diantara beribu pikiran kita atau diantara sikap-sikap hidup kita terdapat unsur kekufuran tertentu (seperti juga silau mata kita yang berlebihan terhadap keduniawian dewasa ini bisa dianggap meng-ilah-kan yang selain Allah); akan tetapi, tentu akan lebih afdhol, apabila kita mengusahakan suatu keterbukaan dan kedewasaan komunikasi, justru untuk membuka kedok kemungkina kekufuran pribadi kita masing-masing dan melenyapkannya. Saudaraku mungkin pernah mendengar aku beberapa kali mengalami berbagai perselisihan faham dengan berbagai kalangan Muslim dalam pentas-pentas atau pembicaraan-pembicaraanku diberbagai tempat, dan aku gagal menemui keinginanku akan keterbukaan dan kedewasaan komunikasi seperti itu. Aku sering berkata kepada saudara-saudara kita: “Jika Saudaraku melihat aku sesat, dan bersedia mengishlah membawaku kepada jalan yang benar, maka alangkah besar rasa syukurku”. Namun, aku justru sering menghadapi berbagai sikap tertutup seperti kuungkapkan diatas: sikap tertutup itu bukan karena Islam, tetapi karena faktor mentalitas, keterbatasan-keterbatasan psikologis. Sampai pada suatu saat aku berkata kepada diriku sendiri: Kalau saja aku ini seorang muallaf, maka dengan menghadapi sikap jumud seperti itu, tak mustahil aku terlempar kembali ke luar Islam. Namun, Alhamdulillah, justru karena itu maka Allah berkenan menganugerahiku tenaga untuk makin mencintai-Nya serta lebih dalam meyelami samudera nilai Islam yang demikian luas dan dalam.

Saudaraku tahu mungkin kemusliman kita ini belum apa-apa dan sungguh masih amat jauh dari yang dikehendaki Allah, karena itu betapa kita semua harus senantiasa siap terbuka atas nilai-nilai kebenaran Islam yang mungkin saja kemarin masih belum kita insyafi. Banyak hal kita ketahui, namun jauh lebih banyak lagi yang belum kita ketahui. Allah telah memaparkan segalanya, tapi barangkali mata kita masih cukup buta dan telinga kita masih agak tuli. Segala yang ‘kita kuasai’ itu pastilah sedzurroh saja dibanding realitas dan nilai yang sesungguhnya yang disediakan oleh Allah Yang Maha Kaya.

Kita semua adalah khalifah fil-ardh, tetapi engkau atau aku bukanlah satu-satunya khalifah. Dan aku kira tidak benarlah apabila kita mempunyai sikap seperti itu: seakan-akan kita adalah langsung mewakili Allah dimana setiap orang musti sependapat dengan kita, betapapun secara subjektif kita amat meyakini dan menganggap luhur keyakinan serta kebenaran pikiran kita sendiri itu. Saudaraku Insya Allah sudah membaca buku Dialog Sunnah Syi’ah: surat-menyurat antara ‘Kyai Sunnah’ asy-Syaikh al-Bisri al-maliki dengan ‘Ulama Jumhur’ as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-‘Amili itu amat memberi informasi berharga kepada kita tentang percaturan faham yang berbeda antara Sunnah yang mayoritas dan Syi’ah yang minoritas. Akan tetapi yang tak kalah bermaknanya dibanding informasi itu ialah bagamana cara dan watak mereka didalam berdialog. Bagaimana keterbukaan sikap pribadi mereka, seberapa kematangan dan kedewasaan yang menjadi ruh komunikasi antara mereka, betapa tawadhu’ dan rendah hati mereka, serta betapa besar gairah murni untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran: tanpa sikap defensif dalam arti emosional, tanpa menonjolkan ‘gengsi’ atau ‘harga diri’ pada proporsi yang tak wajar, atau tanpa etos ‘mempertahankan pendapat secara membabi- buta’ seperti yang sering menjadi watak dari dialog-dialog moderen dewasa ini, yang acapkali terkotak pada dimensi ‘intelektual’ belaka. Semua perwatakan dialog itu tentu saja merupakan ‘dimensi tersembunyi’ dibalik formalitas informasi yang dipaparkan oleh buku tersebut.
Demikianlah, Saudaraku, kita yang masih faqir ini semoga dibimbing oleh Allah untuk menumbuhkan kekayaan-kekayaan seperti itu. Kita Kaum Muslimin Insya Allah akan menyongsong kemenangan, tetapi itu tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai marodhun didalam diri kita sendiri. In dholaltu fainnamaa adhillu ‘alaa nafsii, wa-inihtadaitu fabimaa yuuniya ilayya robbil innahu samii’un qorlib.

EMHA AINUN NAJIB